ITALIA VS INGGRIS

Minggu, 24 Juni 2012
Banyak orang mengernyitkan dahi saat coba mengingat kapan Inggris terakhir kali bertemu Italia. Walau bukan rival berat seperti Jerman-Belanda, Italia dan Inggris punya sisi menarik dari perbedaan kental akan filosofi sepakbola.

Bukan hal mengherankan ketika Italia memastikan diri bertemu Inggris di perempat final. Ya, rivalitas keduanya bukan seperti rivalitas antara Jerman-Belanda yang dilatarbelakangi sejarah perang dunia. Pun bukan seperti Argentina-Brasil yang memperebutkan status negara penguasa sepakbola di satu benua.

Walau kedua negara ini menjadi kiblat sepakbola Eropa dan dunia, Inggris dan Italia sendiri jarang dipertemukan di level kompetisi tertinggi. Rivalitas sonder pertemuan. Sepi.

Tapi, bukan berarti partai perempat final kali ini tidak menghadirkan tensi tinggi antara keduanya. Perbedaan filosofi sepakbola acap kali mengakibatkan suporter negara-negara ini beradu argumen dan saling mencerca.

Fans dan jurnalis Inggris sering memberi label pada sepakbola Italia sebagai sepakbola yang kotor, malas, defensif, dan penuh kecurangan. Sementara suporter dan media Italia menilai Inggris memainkan sepakbola yang terlalu naif dan jujur.

Utopia versus Realisme

Kultur di atas lapangan, atau di tribun stadion, tak bisa lepas dari budaya yang berkembang di masyarakat bersangkutan. Sebagian nilai dalam sepakbola Inggris berasal dari nilai etika protestan yang memiliki respek akan hukum dan peraturan. Nilai-nilai yang sama mengajarkan bahwa kerja keras dan kejujuran adalah nilai tertinggi yang dapat dimiliki oleh seseorang.

Sementara Italia memiliki kultur berbeda, yaitu kultur yang mengenal konsep peraturan adalah konsep relatif. Bahwa perbedaan antara kebenaran dan kebohongan, antara fair-play dan kecurangan, tidak selamanya hitam dan putih. Ada ruang-ruang untuk imajinasi dan interpretasi di sana.

Perbedaan nilai-nilai inilah yang menjadikan kedua negara melihat pertarungan di lapangan hijau dengan dua kacamata berbeda.

Suporter Inggris sering menyamakan pertarungan di lapangan layaknya duel; pertarungan sampai mati. Saat Inggris pergi berperang, mereka pergi dengan prinsip lebih baik mati dari pada menyerah di medan perang. Kalaupun kalah, mereka akan mati dengan tenang jika mengetahui bahwa mereka telah berjuang dengan jujur dan memberikan segalanya. Nilai-nilai yang sama juga dipegang oleh kelas pekerja sosialis di Inggris.

Sementara Italia, dan banyak negara Latin lainnya, melihat sepakbola sebagai pertarungan di hutan rimba, di mana mempertahankan diri dinilai lebih penting daripada nilai-nilai. Mereka akan menggunakan segalanya untuk tidak kalah, bahkan jika itu berarti bermain di daerah abu-abu.

Maka jangan heran jika tipe sepakbola yang Italia usung adalah sepakbola yang penuh kalkulasi dan strategi. Pesepakbola Italia bertarung tidak hanya dengan kakinya, tapi juga dengan otaknya, dengan imajinasinya, dengan emosinya, dengan hatinya, dengan tangannya, bahkan dengan matanya.

Mereka akan menghitung kelemahan terbesar lawan dan mengeksploitasinya, walau itu dilakukan dengan mengacaukan emosi dan psikologis musuhnya.

Andrea Tallarita, dalam kolom brilliannya “Understanding Italian Football", mengilustrasikan kedua perbedaan kultur ini dengan baik. Orang Inggris memiliki Sir Gawain, keponakan Raja Arthur dan salah seorang ksatria meja bundar terhebat, sebagai pahlawan. Sementara Italia mengidolai Ulysses, penasihat raja Ithaca yang cerdik dan berhasil menang dalam perang karena trik tipuan kuda Troya-nya.

Kultur sepakbola yang satu akan selalu berjuang mencapai utopia yaitu saat kemenangan dicapai melalui kejujuran. Sementara kultur yang lain mengakar pada realita.

Pertarungan di lapangan: Fantasisti versus Pemain Sayap

Kata "imajinasi" mungkin jadi kata yang tepat untuk menggambarkan filosofi sepakbola Italia di lapangan. Hal ini dikarenakan kultur sepakbola mereka, yang sarat dengan taktik dan kalkulasi, memaksa tim-tim Italia untuk memiliki imajinasi untuk membongkar strategi.

Adalah peran seorang fantasisti, yang secara harafiah diartikan sebagai "pekerja imajinasi", untuk menyediakan kreativitas di lapangan. Mereka yang diberi anugrah kemampuan sebagai seorang fantasisti bahkan dianggap setengah dewa oleh suporter Italia. Dari masa ke masa Italia pun telah menghasilkan fantasisti yang selalu dikenang seperti Gianni Rivera, Gigi Meroni, Roberto Baggio, Francesco Totti, atau Alessandro Del Piero.

Fantasisti sendiri bukan merupakan satu posisi khusus yang ditempati oleh seorang pemain. Lewat kolomnya lagi, Andrea Tallarita menjabarkan bahwa fantasisti adalah kemampuan seorang pemain untuk melihat kapan saat jendela kesempatan, untuk menyergap lawan secara tiba-tiba, terbuka.

Bak seorang pesulap yang mengubah tongkat menjadi bunga dalam sekejap mata, seorang fantasisti dapat menipu lawannya untuk melakukan gerakan atau koreografi yang tak terduga. Di Piala Eropa ini perhatikanlah Antonio Cassano. Berbeda dengan Pirlo, sering kali umpan atau tendangan yang Cassano lakukan bukan lahir secara metodik. Seolah berontak pada aturan kapan dan bagaimana suatu umpan harus dilakukan.

Walau tak memiliki padanan kata dalam bahasa lain, fantasisti sendiri tidak dimonopoli pemain berkebangsaan Italia. Rui Costa, Zinedine Zidane, Yuri Djorkaef, atau Kaka, datang ke Seri A kemudian pulang dengan meninggalkan jejak sebagai fantasisti yang akan selalu dikenang.

Namun, dalam sejarah panjang sepakbola Inggris, kehadiran fantasisti asli Inggris sendiri dapat dihitung dengan sebelah tangan. Matt Le Tissier dan Paul Gascoigne adalah beberapa di antaranya.

Berbeda dengan Italia, peran dalam permainan sepakbola Inggris berasal dari pakem tradisional yang sulit tergantikan hingga saat ini.

Aturannya mudah: pemain bertubuh besar digunakan sebagai striker utama dan pemain tengah. Pemain dengan kecerdasan tinggi ditempatkan sebagai striker kedua. Pemain yang sulit untuk dijatuhkan melakoni peran sebagai pemain belakang, dan pemain dengan kecepatan tinggi diposisikan sebagai pemain sayap.

Pakem-pakem ini menyebabkan Inggris menghasilkan tipe-tipe pesepakbola yang sama dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah pemain sayap.

Selain Portugal, di Eropa Inggris memang jadi negara yang rutin menghasilkan pemain sayap, baik itu pemain sayap murni (pemain berkaki kanan ditempatkan di sayap kanan, dan sebaliknya), maupun winger yang bergerak menusuk ke dalam atau lebih dikenal dengan inverted winger.

Generasi saat ini mengenal nama-nama seperti Ashley Young, James Milner, Stewart Downing, Theo Walcott, atau Adam Johnson. Sementara pada periode 90-an ada David Beckham, Ryan Giggs (dibesarkan di Liga Inggris), Steve Mcmanaman, ataupun John Barnes.

Pemain sayap ini digadang-gadang menjadi kunci kesuksesan sebuah klub yang ingin merajai Liga Inggris. Salah satu contohnya adalah apa yang dilakukan Alex Ferguson di Manchester United. Walau membuang David Beckham dari klubnya, Ferguson tak pernah gagal menghadirkan kembali serentetan pemain sayap kelas dunia di Manchester. Mulai dari Giggs, Cristiano Ronaldo, Nani, hingga kini Ashley Young berhasil ia didik. Beberapa di antaranya mampu membawa MU meraih piala demi piala di Liga Inggris.

Seperti halnya Inggris yang jarang memproduksi seorang fantasisti, sepakbola Italia pun jarang menghasilkan seorang pemain sayap. Paling banter tim-tim Italia menggunakan seconda punta (striker kedua), yang memiliki kecepatan tinggi, sebagai penyerang yang ditempatkan di sayap dalam formasi 4-3-3.

Hal ini juga diperparah dengan diadopsinya formasi 4-2-3-1 dan 4-3-1-2 oleh klub-klub serie-A dalam satu dekade terakhir. Formasi ini menitikberatkan pada peran central-midfielder sehingga para pemain sayap jarang mendapatkan panggung.

Walau kehadiran pemain sayap Inggris pada Piala Eropa ini kurang bersinar, setidaknya ada 4 gol Inggris berasal dari area sayap kanan lapangan. Di kubu Italia sendiri peran sentral Cassano dalam membuka ruang dan memberikan umpan matang pada Balotelli tak terbantahkan.

Menarik untuk diamati apakah kedua kulminasi kultur sepakbola yang berbeda ini dapat jadi titik awal rivalitas panjang antara Inggris dan Italia.

<sumber>

G E M P A >>>>>>>

Sabtu, 23 Juni 2012
Gempa berkekuatan 6,6 SR yang berpusat di Subulussalam, Aceh, juga dirasakan di sebagian besar wilayah di Sumatera Utara (Sumut). Sejauh ini tidak ada laporan kerusakan.

Daerahyang merasakan efek gempa tersebut terutama yang berada dekat dengan wilayah Subulussalam. Antara lain Kabupaten Pakpak Bharat, Dairi, Karo. Daerah lainnya Kabupaten Deli Serdang, Langkat, Medan, Padang Sidempuan dan Binjai.

Gempa juga dirasakan di Kabupaten Labuhan Batu, Tapanuli Tengah, Sibolga dan juga kabupaten dan kota yang ada di Pulau Nias.

"Ada getaran terasa, tetapi sebentar. Tidak ada kerusakan," kata Kabag Humas Pemkab Pakpak Bharat, Kastro Manik, melalui telepon, Sabtu (23/6/2012).

Kondisi serupa juga disampaikan Juniwan Napitupulu dari Kota Sibolga. "Ada gempa memang dirasakan, tetapi tidak ada efek apa-apa," kata Juniwan.

Gempa berkekuatan 6,6 SR terjadi pada pukul 11.34 WIB. Pusat gempa berada sekitar 24 klilometer barat daya dari Kota Subulussalam, Aceh. Sementara kedalaman sekitar 103 kilometer.





























Lagu Resmi EURO 2012/Oceana - Endless Summer (Official Video UEFA EURO 2012)

Jumat, 22 Juni 2012
Halo EURO 2012 mania,asik dong udah dihibur oleh pertandingan kelas dunia di turnament ini?So pasti,bisa di pastikan,tidak ada pertandingan yang tidak ketat di turnamen ini,karena kekuatan pesertanya berimbang.Kita tidak akan menjumpai nama negara yang aneh seperti di Piala Dunia.
Nah,disamping pertandingan yang asik,ada juga yang membuat suasana menonton kita semakin seru,apa itu?
Ya,dia adalah OFFICIAL THEME SONG kejuaraan ini.Pada episode kali ini,lagu resmi euro 2012 dipercayakan kepada Oceana.Hampir keseluruhan pengambilan video klip yang melibatkan Oceana di buat di Jamaika.
So,lets enjoy it


<Lyrics>

Endless summer, oh, oh, oh, oh,
yeh, yeh, yeh, yeh, yeh
Endless summer, oh, oh, oh, oh,
yeh, yeh, yeh, yeh, yeh

Moving up, moving down, keep on turning up the sound
We gonn party in the sun
Catch the feeling have some fun
Moving up, moving down, let your love shine all around
You’re gonna be my number one
Make my heart beat like a drum
Like a drum, drum,
Moving up, moving down
You make me jump, jump
Let your love shine all around
Like a drum, drum,
Make my heart beat like a drum
Like a drum, drum,

Endless summer, oh, oh, oh, oh,
yeh, yeh, yeh, yeh, yeh
Endless summer, oh, oh, oh, oh,
yeh, yeh, yeh, yeh, yeh

Like a drum, drum,
Moving up, moving down
You make me jump, jump
Let your love shine all around
Like a drum, drum,
Make my heart beat like a drum
Like a drum, drum,
You’re gonna be my number one
Make my heart beat like a drum
Like a drum, drum,

Endless summer, oh, oh, oh, oh,
yeh, yeh, yeh, yeh, yeh
Endless summer, oh, oh, oh, oh,
yeh, yeh, yeh, yeh, yeh

POLLING EURO 2012

Beberapa media telah melakukan polling tentang juara piala eropa 2012.Dari beberapa polling tersebut,masih di dominasi pendukung spanyol.Siapakah jagoan anda?Apakah anda setuju dengan hasil polling tersebut?Yang jelas,mari kita lihat hasil polling beberapa media di indonesia.



Ukraina 6.17% [9595]
Rusia 0.83% [1294]
Kroasia 0.15% [235]
Ceko 0.95% [1471]
Swedia 11.43% [17789]
Polandia 12.46% [19386]
Yunani 0.12% [187]
Prancis 6.99% [10883]
Portugal 0.57% [891]
Irlandia 13.44% [20915]
Denmark 0.1% [160]
Inggris 13.85% [21562]
Belanda 4.35% [6771]
Spanyol 3.91% [6091]
Jerman 14.32% [22291]
Italia 10.35% [16107]











Spanyol12069 (24.69%)

Italia11017 (22.54%)
Jerman9266 (18.96%)
Inggris5412 (11.07%)

Belanda4738 (9.69%)
Portugal3561 (7.29%)
Prancis1466 (3%)
Kroasia213 (0.44%)
Rusia173 (0.35%)
Rep. Ceska164 (0.34%)
Yunani155 (0.32%)
Swedia153 (0.31%)
Ukraina130 (0.27%)
Polandia125 (0.26%)
Rep. Irlandia121 (0.25%) 

Denmark116 (0.24%)






19.8%

18.8%

11.2%

9.4%

9.1%

8.5%

5.7%

2.3%

2.2%

2.1%

2%

Denmark
1.9%
1.9%
1.8%
1.7%

Rep-irlandia
1.7%





































































































































































































MENGENAL BATIK

Kamis, 21 Juni 2012

batik in fashion


Anda mengenal batik? Saya yakin,hampir semua masyarakat indonesia mengenal batik. Bila dahulu batik hanya di pakai untuk acara pesta,adat jawa dan acara seremonial belaka,kini sudah banyak kalangan yang memakai batik untuk keperluan sehari - hari sejak batik resmi terdaftar di UNESCO.Kita bisa melihat di perkantoran telah mewajibkan batik menjadi pakaian dinas di hari hari tertentu.

Batik adalah salah satu cara pembuatan bahan pakaian. Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan bahan sejenis lilin(wax) untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait, oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2 Oktober, 2009.
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa pada masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga pada masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak "Mega Mendung", dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB.
Kota yang terkenal akan batiknya saat ini salah satunya adalah pekalongan.
isnainiDalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.
Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.
Saat ini batik bukan hanya di buat menjadi pakaian,tapi juga sudah berkembang untuk di buat beragam aksesoris seperti tas,dompet,gelang,topi dll.Bila dahulu,hanya orang tua yang sering memakai batik,kini kaula muda juga bangga berbatik.
Jadi,mari memakai batik.